16 berdebu
16 berdebu
16 masih bernisan…
Senja damai kumuntahkan tiada sukma yang menerka
Robekan pesisir yang kusapu
Alunkan musim semi yang berinduk masa lalu
Ingin ku menembus sangkar tuhan yang menjejali kedewasaan
Akan sebuah hidup baru
Lepas
Kerana
Sudahi,
Semua yang ku lalui
Saatnya kuladeni reingkarnasi 16
Ingat
Jika aroma itu bergejolak
Maka pasti semerbak itu menyapamu
Dan saat hasrat memendam perih jerit hati
Maka pasti ranah kasturi mendekap
Palung ragamu…
Merindukan serpihan kenangan
Yang kita rajut bersama isak tawa dan tangis..
Ingatlah saat kerapuhan
Mencerca urat senyuman yang terhias
Dan ingatlah saat robekan duri mencabik kerinduan akan pertemuan
Ingatlah saat itu…
Untuk mereka dan dia si sungkar janji
Dunia ini keras
Kelompok kerap bersulang atas digdaya,
Si kecil dengan janji tersaampihkan raja material lusuh
Mereka yang bersama
Tidak lebih dari racun hidup muntah kelabang
Sehabis raasa kusamku pada mereka
Aaaaargggh rasanya ingin ku koyak mereka yang melampirkan janji
Ssssiiiiitttt
Dasar gerombolan anjing bertuah lisan
Seraya kejalangan
Rasaku inginkan sakit
Nadiku inginkan sudahi
Nafasku berharap rihlah
Tubuhku mulai terpaku menyeringai maut…..
Aaaaarrgh lelah duniaku kau cambuk dengan belati bergigi
Tapi dendangmu menepi di telingaku
Seraya :
“dan aku mau hidup seribu tahun lagi”
Itu yang ku dengar dari pria yang berkata AKU
Anwar si binatang jalang
lukamu ibu
Ku tahu lukamu ibu
Mendamba kebaikan bertuas padaku
Tapi yang kudapati hanya priuk yang memudar akan harapan sudimu
Ku sadar lelahmu temani dewasa ini
Beradu ego sang anak yang tak kenal kau aping
Aku kini satuan dari partikel kebencian
Yang lusuh akan butir katamu ibu..
Hangat paksaanku menerpa sang ayah tapi dingin yang membeku
Saat wajahku mengadah padamu..
Aku tahu paksaan duniawi padamu
Karena selama ini kedipan kebahagian belum kau raba atasku…
Maaf ibu.. maaf ayah…
Harapmu sirna di mataku.
harapan terselubung
Rasanya ingin ku berucap ibu padamu
Menggulirkan semangat yang padam lekas tak berarti buatmu
Karena ku tahu kau hanya akan malas mendengar ocehan semapai ini.
Entah apa inginku berlaku itu
Tanpa ku sadari kerugian menerimaku segala iba
Dan kesudian yang bertempik sangat…
Kau masih galauan yang ku rapatkan dalam laci
Serpihan yang belum juga kubuang
Karena aku butuh mutiara saat ku berani membuang emas…
2 kata
Tuhaan apa daya belulang ini
2 kata itu cukup menghardik pematang usiaku
Recah sendamu
Membudahkan busa lautan…
Aku terseok…
Melayang.
Menerpa imbuhan –lah
………………………….
Sabarlah..
Tenanglah
Ingatlah….
Aaarggh ku ronbek juga belahan atsmosfer yang meringai itu
demenezeu (tuhan)
tuhhhaaannn...
apakah perbedaan itu dusta??
apakah perbedaan itu kiamat??masih sudikah hidup dengan perbedaan??
aaarrrrghh
rasanya ingin ku berteriak dan menyusulmu untuk mengajak duel diatas arasy sana...
tak pernah kupedulikan robekan sekitar tubuhku yang tersungging atas kodratmu..
aku mudah..
aku lelahh...
sepiii...
rinduu...
sssialll sudimu bertahta atas ranah kasturi rupamu
ciiiihhhh tanah usang itu terpaan kesombonganku
atas kebiadaban bumi murkaaa
kau tau sekarang??
puass??
legaaa???
teruslah mengejekku dengan suraumu yang kaluh itu...
nisanmu tak benitrat bagiku..
sekarang aku muaaaak...
dan aku abaikan fisik ini untuk kau cabik sesukamu...
karena ku yakin setarapun tak kudaapatkan darimu...........
apakah perbedaan itu dusta??
apakah perbedaan itu kiamat??masih sudikah hidup dengan perbedaan??
aaarrrrghh
rasanya ingin ku berteriak dan menyusulmu untuk mengajak duel diatas arasy sana...
tak pernah kupedulikan robekan sekitar tubuhku yang tersungging atas kodratmu..
aku mudah..
aku lelahh...
sepiii...
rinduu...
sssialll sudimu bertahta atas ranah kasturi rupamu
ciiiihhhh tanah usang itu terpaan kesombonganku
atas kebiadaban bumi murkaaa
kau tau sekarang??
puass??
legaaa???
teruslah mengejekku dengan suraumu yang kaluh itu...
nisanmu tak benitrat bagiku..
sekarang aku muaaaak...
dan aku abaikan fisik ini untuk kau cabik sesukamu...
karena ku yakin setarapun tak kudaapatkan darimu...........